Kesehatan

Investigasi CISDI: Cukai Minuman Manis Kemasan Cegah Bermacam-macam Ribu Kasus Obesitas di tempat Masa Depan

Gragehotels.co.id – Penelitian terbaru Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) menunjukan penerapan cukai minuman berpemanis pada kemasan (MBDK) ampuh turunkan tindakan hukum kegemukan (overweight) lalu obesitas hingga 10 tahun mendatang.

Chief Policy and Research CISDI, Olivia Herlinda mengungkapkan pemberian cukai MBDK minimal 20 persen berpotensi menurunkan kesempatan konsumsi minuman kemasan manis, serta asupan gula harian 5,4 gram pada lelaki lalu 4,09 gram pada perempuan.

Dengan menurunkan konsumsi gula ini, kata Olivia, efeknya mampu menghindari 253 ribu tindakan hukum gemukan lalu 502 ribu obesitas pada 10 tahun mendatang. Tapi kondisi ini dapat terjadi sebaliknya, jikalau cukai minuman manis kemasan tiada segera terealisasi, bisa saja memicu 8,9 jt perkara diabetes mellitus melitus tipe 2 dalam 2033 mendatang.

Pengunjung memilih barang minuman berpemanis di tempat salah satu ritel pada Jakarta, Hari Senin (18/12/2023).  [Suara.com/Alfian Winanto]
Pengunjung memilih hasil minuman berpemanis dalam salah satu ritel di tempat Jakarta, Awal Minggu (18/12/2023). [Suara.com/Alfian Winanto]

“Namun, apabila cukai MBDK diterapkan mulai 2024, perkara baru penyakit gula melitus tipe 2 diproyeksikan berkurang signifikan menjadi 5.854.125 kasus. Artinya, sebanyak 3.095.643 persoalan hukum baru kumulatif dapat dicegah pada satu dekade,” ungkap Olivia pada Ibukota Indonesia Selatan, Kamis (7/3/2024).

Diabetes melitus tipe 2 adalah penyakit kronis yang mana ditandai dengan peningkatan kadar gula darah di tubuh akibat tahanan insulin atau produksi insulin yang tersebut tidak ada berfungsi maksimal.

Health Economics Research Associate CISDI, Muhammad Zulfiqar Firdaus berharap cukai minuman manis kemasan segera diberlakukan dalam 2024. Hal ini sesuai dengan riset yang mensimulasikan risiko lalu potensi jikalau dimulai dan juga bukan dimulai tahun ini.

“Jadi memang benar kita targetnya tahun ini, sesuai dengan penelitian kita, apabila semakin lama semakin besar juga risiko juga menurunkan potensi penurunan penyakit tak menular di tempat Indonesia,” kata Zulfiqar.

Hal ini dibenarkan Olivia yang digunakan juga memaparkan hasil riset menunjukan ada prospek penurunan total penderita hiperglikemia melitus tipe 2 setiap tahunnya.

“Apabila cukai diterapkan mulai 2024, jumlah total penderita hiperglikemia melitus tipe 2 diperkirakan turun setiap tahun kemudian dapat mengurangi peluang 455.310 persoalan hukum kematian kumulatif akibat penyakit yang dimaksud pada satu dasawarsa ke depan,” jelas Olivia.

Adapun riset dilakukan, berdasarkan riset sejenis seputar cukai minuman manis kemasan di tempat berbagai negara dunia yang dimaksud sudah ada lebih besar lama menerapkannya di dalam Thailand, Vietnam, Afrika Selatan, Amerika Serikat, Inggris, Meksiko, Australia.

Riset CISDI ini juga dijalankan dengan cara menghitung inovasi nilai barang minuman manis kemasan, kemudian disimulasikan cukai MBDK. Ditemukan kenaikan harga jual sebesar 20 persen kenaikan nilai minuman manis kemasan menurunkan konsumsinya sebesar 17,5 persen.

Adapun kategori MBDK berdasarkan Investigasi Aspek Kesehatan Dasar Indonesia (Riskesdas) 2018, mencakup 3 kategori sebagai berikut:

  1. Minuman manis yang mana mencakup sirup, teh manis kemasan, dan juga minuman manis non karbonasi lainnya.
  2. Soft Drink juga minuman berkarbonasi.
  3. Minuman berenergi

Related Articles

Back to top button