Teknologi

Keselamatan Digital Jadi Kunci Utama Utama di 3 Tahun Mendatang

Gragehotels.co.id – JAKARTA – Cybersecurity menempati tempat pertama untuk lima risiko utama yang akan dihadapi organisasi termasuk perusahaan pada waktu ini kemudian pada tiga tahun mendatang. Hal itu berdasarkan laporan Risk in Focus Global Summary 2024 yang mana dirilis oleh The Institute of Internal Auditors (IIA).

Partner Technology Risk Consulting RSM Indonesia, Erikman D Pardamean menyampaikan bahwa meskipun kabar baiknya Indonesia telah dilakukan meraih peningkatan peringkat National Cyber Security Ukuran (NCSI) pada 2023, namun organisasi termasuk perusahaan masih dituntut untuk memperhatikan beberapa langkah kunci di menghadapi cybersecurity khususnya di tiga tahun mendatang.

“Indonesia meraih skor 63,64 dari skala 100 di indeks keamanan siber, yang mana meningkat sebesar 24,68 poin dari skor tahun sebelumnya yang mana semata-mata mencapai 38,96 pada 2022. Hal ini menjadikan Indonesia pada 2023 naik ke peringkat 49 dari 176 negara dari yang tersebut sebelumnya peringkat 83 pada 2022,” ujar Erikman pada webinar bertajuk “Cyber Security, Angka Privacy, and Human Rights: Navigating the Digital Landscape”, Hari Senin (18/3/2024).

Menurutnya, peningkatan peringkat ini patut diakui oleh sebab itu mencerminkan peningkatan tingkat kesiapan serta kesadaran warga menghadapi ancaman siber.

“Namun mengingat cybersecurity masih menjadi top risk untuk organisasi hingga tiga tahun mendatang, maka penting bagi perusahaan untuk memiliki beberapa langkah kunci pada menghadapinya,” lanjut Erikman.

Dalam webinar yang dimaksud juga disampaikan bahwa tiga poin kunci. Pertama, penting bagi perusahaan untuk mengenal ‘crown jewel’ yang tersebut perlu dilindungi dengan mengidentifikasi aset Information Technology (IT) dan juga Operational Technology (OT) pada organisasi, melakukan penilaian risiko siber juga postur risiko siber secara berkala.

“Kemudian penting untuk dipastikan bahwa proteksi diimplementasikan secara efektif dengan melakukan penilaian berkala seperti simulasi phishing, latihan ancaman siber, penilaian kerentanan, dan juga pengujian penetrasi (penetration test),” jelasnya.

Kedua adalah terkait mendirikan ketahanan siber. Ketahanan dapat dicapai melalui penyelenggaraan tata kelola kemudian strategi keamanan siber yang tersebut kuat. Tata kelola melibatkan pembentukan struktur, kebijakan, juga prosedur yang jelas yang digunakan menetapkan tanggung jawab, mengurus risiko, juga melakukan konfirmasi kepatuhan dengan hukum dan juga standar yang relevan.

Strategi mengacu pada rencana menyeluruh yang digunakan menyelaraskan inisiatif keamanan siber dengan tujuan bisnis, mencakup manajemen aset, penilaian risiko, respons insiden, juga perencanaan pemulihan.

Ketiga adalah keamanan siber tidaklah terpisahkan dari kepercayaan digital (digital trust). Keselamatan siber adalah elemen penting dari kepercayaan digital yang digunakan pada gilirannya penting untuk kesuksesan jangka panjang kemudian kelangsungan hidup industri di area era digital.

“Perusahaan harus memprioritaskan keamanan siber untuk melindungi dari ancaman, meyakinkan kepatuhan dengan regulasi kemudian memulai pembangunan kepercayaan yang dimaksud diperlukan untuk pertumbuhan yang mana berkelanjutan kemudian keunggulan bersaing,” paparnya.

Urgensi permintaan akan keamanan siber akan semakin tinggi, mempertimbangkan masa transisi UU Perlindungan Informasi Pribadi (UU PDP) di tempat Indonesia yang mana akan berlaku penuh pada Oktober 2024. Aspek keamanan siber menjadi krusial untuk melindungi data pribadi dari ancaman digital.

Related Articles

Back to top button