Kesehatan

Indonesia Darurat Diabetes, Cukai Minuman Manis pada Kemasan Harus Diterapkan

Gragehotels.co.id – Di pada waktu Singapura telah menerapkan nilai makanan dan juga minuman kemasan kategori paling sehat hingga paling tidak ada sehat, Kementerian Kesejahteraan masih sebatas berupaya menerapkan kebijakan cukai minuman berpemanis pada kemasan (MBDK) untuk menurunkan prevalensi diabetes mellitus dalam Indonesia yang mana kian melonjak dari tahun ke tahun.

Cukai MBDK adalah penerapan pajak atau biaya tambahan untuk produk-produk minuman berpemanis pada kemasan, sebab berdampak buruk pada kebugaran orang yang digunakan mengonsumsinya, kemudian meningkatkan prevalensi penyakit bukan menular (PTM) seperti diabetes, obesitas, hingga gangguan ginjal.

Fakta ini sesuai dengan penelitian Vasanti S Malik et al. (2019), yang menunjukan setiap peningkatan 1 takaran saji minuman berpemanis per hari, berhubungan dengan peningkatan berat badan sebesar 0,12 klogram per tahun pada orang dewasa.

Penelitian yang dimaksud juga menunjukkan bahwa kelebihan konsumsi minuman berpemanis satu porsi per hari akan meningkatkan risiko terkena diabetes mellitus melitus tipe 2 sebesar 18%, stroke 13%, dan juga serangan jantung atau infark miokard 22%.

Berdasarkan temuan ini juga, Kemenkes menilai cukai MBDK kadi salah satu intervensi yang dinilai cukup efektif untuk mengatasi PTM. Ditambah, jikalau peningkatan PTM di dalam warga bukan diintervensi melalui kebijakan seperti cukai MBDK ini, dipastikan beban finansial negara terus bertambah di tempat bidang sistem kesehatan.

Apalagi pada waktu ini telah sebanyak 108 negara yang mana menerapkan kebijakan ini, sedangkan di tempat Indonesia rencana ini baru sebatas berkoordinasi dengan berbagai pemangku kebijakan, khususnya Kementerian Keuangan terkait besaran cukai yang tersebut akan datang ditetapkan.

“Peraturan pada waktu ini sedang disosialisasikan juga dikoordinasikan bersatu pemangku kepentingan terkait seperti Kementerian Keuangan (Kemenkeu) terkait besaran cukai yang akan diterapkan,” ucap Direktur Pencegahan dan juga Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI Eva Susanti dalam Jakarta, melalui keterangan yang dimaksud diterima suara.com, Rabu (31/1/2024).

Eva menambahkan, penerapan cukai MBDK jadi salah satu urgensi yang mana harus segera direaliasasikan. Pasalnya, minuman manis di kemasan meningkatkan risiko diabetes, yang tersebut pada waktu ini jadi salah satu penyanyi pemicu kematian tertinggi di dalam Indonesia.

Ditambah, data The Global Burden of Disease 2019 and Injuries Collaborators 2020 menyebutkan, PTM merupakan faktor dari 80% tindakan hukum kematian di tempat Indonesia.

Percepatan cukai PMDK ini juga dinilai sangat diperlukan, sebagaimana penelitian Ferretti dan juga Mariani (2019) menunjukkan, Indonesia menempati sikap ketiga di tempat Asia Tenggara setelahnya Maldives serta Thailand dengan konsumsi MBDK terbanyak, yaitu sebesar 20,23 liter per orang.

Sumber lain, Rosyada kemudian Ardiansyah (2017) juga menyebutkan, konsumsi MBDK di tempat Indonesia mengalami peningkatan 15 kali lipat pada 20 tahun terakhir, yakni sebanyak 51 jt liter pada 1996 serta bertambah menjadi 780 jt liter pada 2014.

Diharapkan, penerapan kebijakan ini dapat memperbaiki perilaku konsumsi masyarakat, memperbaiki kebugaran masyarakat, kemudian memacu reformulasi hasil lapangan usaha yang mana lebih lanjut sehat.

Perlu diketahui, konsumsi gula, garam, dan juga lemak berlebihan dapat menyebabkan beberapa kesulitan kemampuan fisik pada antaranya obesitas. Berdasarkan Studi Kesejahteraan Dasar (Riskesdas) 2013 juga 2018 terjadi peningkatan obesitas penduduk usia 18 tahun ke atas, yakni dari 15,4% pada 2013 meningkat menjadi 21,8% pada 2018.

Indonesia juga miliki prevalensi obesitas anak yang digunakan tinggi. Prevalensi obesitas pada usia 5-19 tahun meningkat dari 2.8% pada 2006 menjadi 6.1% pada 2016. Untuk kategori remaja usia 13-17, sebanyak 14.8% mengalami berat badan berlebih serta 4.6% mengalami obesitas.

Kemenkes juga menerapkan batas konsumsi gula, garam, lalu lemak (GGL) per orang per hari, yakni 50 gram atau 4 sendok makan gula, 2.000 miligram natrium atau 5 gram atau 1 sendok teh garam (natrium atau sodium), juga lemak cuma 67 gram atau 5 sendok makan minyak goreng.

Konsumsi GGL berlebihan ini juga merupakan perilaku rakyat yang digunakan mendekatkan pada risiko PTM seperti tekanan darah tinggi, diabetes, lalu jantung.

(Sumber: Suara.com)

Related Articles

Back to top button